UJIAN NASIONAL DAN KETERCAPAIAN TUJUAN PENDIDIKAN

(Penulis : Zikwan, S.Pd.)

Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.
Evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namur tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali. Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan pemerintah yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga dijadikan sebagai alat ukur ketercapaian tujuan pendidikan.
Jika kita tela kembali kurikulum yang berlaku saat ini yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kompetensi tersebut merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Selanjutnya dijelaskan bahwa kompetensi dapat diketahui melalui sejumlah hasil belajar dengan indikator tertentu. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual.
Pelaksanaan KBK dikenal dengan istilah diversifikasi kurikulum, maksudnya adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik. Evaluasi yang diterapkan seharusnya dapat menjawab pertanyaan tentang ketercapaian tujuan pendidikan nasional. yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3).
Pemerintah telah menetapkan UN untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. UN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting yakni bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Yang menjadi pertanyaan dari berbagai kalangan adalah ”Apakah keempat pelajaran tersebut mampu menggambarkan keberhasilan sebuah proses pendidikan?”. Pertanyaan lainnya adalah ”Apakah proses belajar selama tiga tahun hanya ditentukan dalam 4 hari pelaksanaan Ujian Nasional tersebut?”. Dan masih muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang menggambarkan kekecewaan terhadap penetapan Ujian Nasional sebagai penentu (Standar Kelulusan).
Berbagai desakan dan tuntutan agar Ujian Nasional ditiadakan, termasuk keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan gugatan terhadap pemerintah. Tetapi hal itu tidak membuat pemerintah bergeming. Ujian Nasional tetap dilaksanakan meskipun dengan beberapa ketentuan tambahan dari UN sebelumnya. Meskipun demikian tidak membuat pihak-pihak tertentu merasa enjoy dalam melaksanakan Ujian Nasional. Masih saja terjadi kekhawatiran-kekhawatiran akan kegagalan siswa dalam Ujian Nasional tersebut. Selain itu munculnya tekanan-tekanan dari berbagai pihak yang semuanya bermuara pada sekolah (Kepala sekolah dan Guru) sebagai ujung tombak suksesnya Ujian Nasional tersebut.
Apa yang terjadi dengan Ujian Nasional? Jawaban dari pertanyaan itu tentunya banyak kita saksikan di media masa. Karena kekhawatiran akan kegagalan itu mengalahkan hati nurani maka berbagai cara ditempuh, termasuk menghalalkan cara-cara yang tidak sepantasnya dilakukan, mulai dari membocorkan soal, membantu siswa, dan lain sebagainya.
Inikah potret pendidikan kita? Benarkah Ujian Nasional akan mampu meningkatkan ketercapaian tujuan pendidikan? Puaskan kita dengan hasil Ujian Nasional siswa kita? Adakah kebanggaan kita terhadap hasil Ujian Nasional itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis tak mampu berkata-kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s